Suatu hari kingkong berada pada suatu tempat yang menurutnya tidak asing lagi. tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kesibukan manusia-manusia metropolitan, jauh dari tempat-tempat hiburan yang menurut manusia metropolitan tersebut adalah hal yang menyenangkan.
Tempat tersebut sangat sederhana, terlihat dari bentuk atau model perabotan-perabotan yang jauh dari kata modern. Kira-kira bergaya '90an. Tidak ada hal yang dapat menarik perhatian kingkong, sampai akhirnya mata dan fikiran kingkong terhenti pada satu titik kegiatan yang menurutnya asing.
Kingkongpun terdiam, mulut yang biasanya menimbulkan kebisingan seakan tertutup rapat, dia tidak bisa berfikir, seakan otaknya tidak mau bekerja kembali. Itu adalah kagiatan yang sederhana pula, akan tetapi menurut kingkong itu adalah hal yang luar biasa menurutnya.
Kegiatan dimulai dengan seorang anak yang bersandar pada dada seorang wanita tengah baya, kemudian si-anak mulai mengeluarkan keluhan-keluhannya akan apa yang dia alami pada hari itu juga dengan nada manja. Lambat laun sepasang tangan mendekati. Sisi kiri tangan membelai rambut si-anak, sedangakan sisi kanan dari tangan itu menepuk paha si-anak dengan lembut. Seakan mewakili jawaban dari keluhan si-anak "Kamu pasti kuat, aku akan tetap disini selalu ada, mendukung, membela dan mendo'akanmu..". Ternyata perempuan tengah baya itu adalah ibunya. Perempuan yang selalu tersenyum padanya, perempuan yang selalu membuatnya marasa tenang meski dia mengalami permasalahan apapun dengan memberikannya kehangatan, kasih sayang dan perlindungan, perempuan yang selalu ada sewaktu dia terbang ataupun terjatuh.
Yaah.. itulah IBU..Yaah.. inilah kingkong yang iri..
Mungkin kingkong sudah kehilangan kehangatan seperti itu. Tapi, sebagai gantinya kingkong mendapatkan kehangatan lain. Memang tidak sehangat seperti apa yang diharapkan akan tetapi kingkong akan selalu bersyukur. Bersyukur akan keadaan yang tidak sempurna ini.